Sabtu, 27 Mei 2017

The Legend of My Village



THE LEGEND OF MY VILLAGE

           Lahir dan tumbuh besar di salah satu pedesaan yang damai di kota Tasikmalaya. Lengkapnya yaitu Kampung Limus Nunggal Desa Cibanteng rt/rw 03/04 Kecamatan Parungponteng Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat 46185. Terletak di sebelah selatan Kabupaten Tasikmalaya, berbatasan langsung dengan Kecamatan lain, seperti Cibalong, Pamijahan,dan lain-lain.
            Tempat tinggal saya masih terbilang asri dan sepi. Meski arus globalisasi sudah sangat terasa, tapi disini belum ada minimarket maupun tempat keramaian lainnya. Masih mengandalkan warung-warung lokal dan toko grosir biasa. Bahkan disini akan semakin terasa sepi apabila telah melewati waktu maghrib.
            Sebenarnya tidak ada data yang pasti maupun keterangan yang jelas mengenai asal-usul daerah tempat tinggal saya. Semua keterangan yang ada hanyalah berdasarkan cerita dan kisah para tetua desa dan sesepuh yang diwariskan secara turun temurun dari mulut kemulut. Tanpa tulisan maupun gambar yang bisa diyakini. Namun, meski begitu sebagian masyarakatpu percaya akan kisah yang mereka dengar. Berikut akan sedikit saya paparkan mengenai kisah asal-usul tempat tinggal saya yang saya ketahui, mulai dari kecamatan, desa dan kampung.
1.      Kecamatan Parungponteng
Kecamatan ini mulai terbentuk sejak Tahun 1998, yang mana sebelumnya bergabung dengan Kecamatan Cibalong. Salah satu kisah yang paling terkenal mengenai asal-usul nama ‘Parungponteng’ adalah tentang sebuah batu batu besar di sungai.
Parungponteng sendiri diambil dari 2 kata dam bahasa sunda, yaitu ‘Parung’ dan ‘Bonteng’. Parung adalah sebuah batu besar yang terdapat di bagian terdalam sungai, dan Bonteng berarti Ketimun.
Dikisahkan, pada zaman dahulu terdapat sebuah parung yang sangat besar di tengah-tengah sungai di jantung kecamatan Parungponteng. Parung itu berbentuk seperti Ketimun, lonjong dan panjang.
Masyarakat zaman dulu sangat tergantung kehidupannya terhadap sungai. Salah satu sungai yang paling ramai dan penting bagi kehidupan masyarakat yaitu didekat parung berbentuk ketimun itu. Semakin lama, keberadaan parung tersebut semakin terkenal hingga akhirnya tempat tersebut terkenal dengan Parung berbentuk ketimunnya, disebutlah ‘Parungbonteng’. Namun karena penyebutan itu dirasa cukup sulit, maka sekarang menjadi ‘Parungponteng’.
Sampai sekarang pun, banyak sekali ditemukan parung-parung berbentuk ketimun di sungai-sungai sepanjang kecamatan Parungponteng, meski warga sudah jarang melakukan aktifitas di sungai.
2.      Desa Cibanteng
Desa Cibanteng merupakan desa terbesar ketiga, di Kecamatan Parungponteng, setelah Desa Parungponteng dan Desa Cibungur. Banyak sekali daerah-daerah di Jawa Barat yang menggunakan kata ‘Ci’ pada namanya. ‘Ci’ sendiri sebenarnya berasal dari kata ‘Cai’ yang berarti ‘Air’.
Daerah Jawa Barat memang terkenal dengan banyaknya ‘tempat-tempat air’, seperti kolam ikan, sungai, dan waduk (danau). Oleh karena itu, masyarakat zaman dulu menambahkan kata ‘Ci’ pada nama daerhnya, termasuk nama desaku.
Cibanteng diambil dari 2 kata, yaitu ‘Cai’ dan ‘Banteng’. Cai disini berarti melimpahnya air sungai di daerah ini, karena sepanjang desa dialiri sungai. Airnya pun tak pernah surut bahkan terkadang sering meluap jika ada hujan deras.
‘Banteng’ sendiri dipakai karena konon katanya, di desa ini terdapat sekumpulan banteng liar yang menjadi penghuni desa ini. Banteng-banteng tersebut tinggal di sebuah tanah lapang luas yang terletak di jantung desa ini, yang sampai saat kini menjadi lapangan utama desa ini.
Lapangan ini sangatlah luas, dikelilingi persawahan, sungai dan sebuah bukit batu kapur besar di salahsatu sisinya. Lapang ini terletak jauh dari jalan raya, harus memasuki perumahan warga dan pematang sawah. Meski begitu, lapang ini tetap menjadi lapangan utama desa ini, seperti digunakan saat Shalat ‘Idul Adha dan ‘Idul Fitri, turnamen akbar antar warga dan juga acara-acara resmi seperti upacara kemerdekaan dan pemilihan kepala desa.
Menurut kisah yang beredar, ditemukan banyak sekali tengkorak dan fosil banteng di salah satu sudut lapang ini, tepat dibawah bukit batu kapur. Oleh karena itu, masyarakat sekitar menganggap bahwa dulu daerah ini dihuni oleh sekawanan banteng.
3.      Kampung Limus Nunggal
Kampung Limus Nunggal adalah kampung kecil di ujung timur Desa Cibanteng. Berbatasan langsung dengan Kampung lainnya seperti Dangdeur, Babakan dan Nangoh. Kampung ini secara geografi berbentuk memanjang dan di kelilingi oleh pesawahan-pesawahan.
Limus Nunggal terdiri dari 2 kata, yaitu ‘Limus’ dan ‘Nunggal’. Limus merupakan salah satu jenis dari buah mangga yang memiliki ciri seperti bentuk lonjong, lebih kecil dari mangga biasa, dan daging buah yang berwarna kuning cerah serta rasa sangat asam. Nunggal sendiri berarti satu atau tunggal.
Menurut kepercayaan masyarakat sekitar, pada zaman dahulu terdapat sebuah pohon limus dibagian bawah kampung ini yang dekat dengan sungai. Itu adalah satu-satunya pohon limus di daerah ini, dan selalu berbuah lebat. Tanpa ada yang memiliki secara jelas, maka pohon itu dimanfaatkan oleh semua warga secara damai. Namun kini, tidak ada satupun pohon limus yang ada di sekitaran kampung ini. 
Sekarang, entahlah apa tujuanku memasukkan semua data yang tak penting ini. Mungkin saja ada beberapa orang yang membutuhkannya (semoga saja). Yang jelas, jika penasaran datanglah ke kampung indahku ini ~jika aku bukan yang memuji, siapa lagiii??~ dimana banyak sekali spot alam yang instagrammable, mulai dari tebing, sungai, bukit kapur, gua, pemandian air panas, curug dan maaaaaasih banyak lagi☺😃 
Salam termanis dan hangat bagaikan secangkir coklat hangat dari anak desa 😁Ü

TERIMAKASIH

Tidak ada komentar:

Posting Komentar